Recent post
Showing posts with label Kimia Analisis Dasar. Show all posts
ANALISA CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD)
Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi atau menguraikan senyawa/materi organik (secara kimia) yang ada dalam 1L sampel air, di mana pengoksidasi K2Cr2O7 (kalium dikromat sebagai oksidator yang umum dipakai) digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent). Parameter COD menunjukkan jumlah senyawa organik dalam air yang dapat dioksidasi secara kimia ataupun melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air.
Analisa COD berbeda dengan analisa BOD namun perbandingan antara angka COD dengan angka BOD dapat ditetapkan. Perbandingan rata-rata angka BOD5/COD untuk beberapa jenis air :
Air buangan domestik (penduduk) : 0,4-0,6
Air buangan domestik setelah pengendapan primer : 0,6
Air buangan domestik setelah pengolahan secara biologis : 0,2
Air sungai : 0,1
Angka perbandingan yang lebih rendah dari yang seharusnya, misalnya untuk air buangan penduduk (domestik) < style=""> Tidak semua zat-zat organis dalam air buangan maupun air permukaan dapat dioksidasikan melalui tes COD atau BOD. Zat organis yang biodegradable (dapat dicerna/diuraikan), misalnya protein dan gula dapat dioksidasikan melalui tes COD dan BOD. Selulosa hanya dapat dioksidasikan melalui tes COD. N organis yang biodegradable, misalnya protein dapat dioksidasikan melalui tes COD dan BOD. N organis yang non-biodegradable, misalnya NO2-, Fe2+, S2-, Mn3+ hanya dapat dioksidasikan melalui tes COD. NH4 bebas (nitrifikasi) hanya dapat dioksidasikan melalui tes BOD mulai setelah 4 hari, dan dapat dicegah dengan pembubuhan inhibitor. Hidrokarbon aromatik dan rantai hanya dapat dioksidasikan melalui tes COD saja karena adanya katalisator Ag2SO4.
Theoretical Oxygen Demand (ThOD) atau kebutuhan oksigen teoretis adalah kebutuhan oksigen untuk mengoksidasikan zat organis dalam air yang dihitung secara teoretis. Jumlah oksigen tersebut dapat dihitung bila komposisi zat organis terlarut telah diketahui dan dianggap semua C, H, dan N habis teroksidasi menjadi CO2, H2O, dan NO3-. Untuk masing-masing jenis air (air sungai, air buangan penduduk, air limbah industri) terdapat perbandingan angka ThOD, COD, dan BOD tertentu.
Cara Analisa / Metode Analisis COD dan BOD pada Limbah Cair
COD (Chemical Oxygen Demand)
COD atau kebutuhan oksigen kimia (KOK) adalah jumlah oksigen
(mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada
dalam satu liter sampel air, dimana pengoksidanya adalah K2Cr2O7 atau
KMnO4. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat
organik yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologis
dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Sebagian besar zat organik melalui tes COD ini dioksidasi oleh
K2Cr2O7 dalam keadaan asam yang mendidih optimum,
Perak sulfat (Ag2SO4) ditambahkan sebagai katalisator untuk
mempercepat reaksi. Sedangkan merkuri sulfat ditambahkan untuk
menghilangkan gangguan klorida yang pada umumnya ada di dalam air
buangan.
Untuk memastikan bahwa hampir semua zat organik habis teroksidasi
maka zat pengoksidasi K2Cr2O7 masih harus tersisa sesudah direfluks.
K2Cr2O7 yang tersisa menentukan berapa besar oksigen yang telah terpakai.
Sisa K2Cr2O7 tersebut ditentukan melalui titrasi dengan ferro ammonium
sulfat (FAS). Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut.
Indikator ferroin digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi yaitu
disaat warna hijau biru larutan berubah menjadi coklat merah. Sisa K2Cr2O7
dalam larutan blanko adalah K2Cr2O7 awal, karena diharapkan blanko tidak
mengandung zat organik yang dioksidasi oleh K2Cr2O7.
BOD (Biochemical Oxygen Demand)
Biochemical Oxygen Demand menunjukkan jumlah oksigen dalam
satuan ppm yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk memecahkan
bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air.
Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran
akibat air buangan penduduk atau industri. Penguraian zat organik adalah
peristiwa alamiah, apabila suatu badan air dicemari oleh zat oragnik, bakteri
dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses oksidasi
tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air dan dapat
menimbulkan bau busuk pada air tersebut. Beberapa zat organik maupun
anorganik dapat bersifat racun misalnya sianida, tembaga, dan sebagainya,
sehingga harus dikurangi sampai batas yang diinginkan.
Berkurangnya oksigen selama biooksidasi ini sebenarnya selain
digunakan untuk oksidasi bahan organik, juga digunakan dalam proses
sintesa sel serta oksidasi sel dari mikroorganisme. Oleh karena itu uji BOD
ini tidak dapat digunakan untuk mengukur jumlah bahan-bahan organik yang
sebenarnya terdapat di dalam air, tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah
konsumsi oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi bahan organik
tersebut. Semakin banyak oksigen yang dikonsumsi, maka semakin banyak
pula kandungan bahan-bahan organik di dalamnya.
Oksigen yang dikonsumsi dalam uji BOD ini dapat diketahui dengan
menginkubasikan contoh air pada suhu 20 0C selama lima hari. Untuk
memecahkan bahan-bahan organik tersebut secara sempurna pada suhu 20 0C
sebenarnya dibutuhkan waktu lebih dari 20 hari, tetapi untuk prasktisnya
diambil waktu lima hari sebagai standar. Inkubasi selama lima hari tersebut
hanya dapat mengukur kira-kira 68 persen dari total BOD (Sasongko, 1990).
Terdapat pembatasan BOD yang penting sebagai petunjuk dari
pencemaran organik. Apabila ion logam yang beracun terdapat dalam sampel
maka aktivitas bakteri akan terhambat sehingga nilai BOD menjadi lebih
rendah dari yang semestinya (Mahida, 1981). Pada Tabel di bawah. dapat dilihat
waktu yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik di dalam air.
Pengujian BOD menggunakan metode Winkler-Alkali iodida azida,
adalah penetapan BOD yang dilakukan dengan cara mengukur berkurangnya
kadar oksigen terlarut dalam sampel yang disimpan dalam botol tertutup
rapat, diinkubasi selama 5 hari pada temperatur kamar, dalam metode Winkler digunakan larutan pengencer MgSO4, FeCl3, CaCl2 dan buffer fosfat.
Kemudian dilanjutkan dengan metode Alkali iodida azida yaitu dengan cara
titrasi, dalam penetapan kadar oksigen terlarut digunakan pereaksi MnSO4,
H2SO4, dan alkali iodida azida. Sampel dititrasi dengan natrium thiosulfat
memakai indikator amilum (Alaerts dan Santika, 1984).
Kesadahan Air (Analisa Air)
Kesadahan adalah daya ( kemampuan ) air untuk mengendapkan sabun. Sabun diendapkan terutama oleh Ca2+ dan Mg3+ yang ada dalam air, serta diendapkan oleh logam polivalen seperti Al3+, Fe3+, Sr2+, dan Zn2+, Mn2+ juga oleh ion hidrogen. Tetapi karena ion selain Ca dan Mg kadarnya sangat sedikit di air alam maka kesadahan hanya ditentukan oleh Ca dan Mg. Tetapi bila ion-ion logam yang menimbulkan kesadahan berjumlah cukup besar, harus dimasukan dalam perhitungan.
>>>> Kesadahan ada dua macam
1. Kesadahan sementara, ion Ca dan Mg berada sebagai HCO3-
Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan pemanasan
2. Kesadahan tetap, ion Ca dan Mg berada sebagai CO3=
Kesadahan ini tidak dapat dihilangkan dengan pemanasan, hanya dapat dilunakkan.
KESADAHAN JUMLAH
PRINSIP
Etilen Diamin Tetra Acetid Acid (EDTA) dan garamnya membentuk senyawa komplek yang larut bila bereaksi dengan kation logam. Bila indikator Erichrom Black T (EBT) ditambahkan kepada suatu larutan yang mengandung ion Ca dan Mg pad pH 10 0,1 larutan akan menjadi merah anggur. Bila kemudian dititrasi dengan EDTA, ion Ca dan Mg akan terikat sebagai komplek. Pada titik akhir titrasi yaitu bila seluruh ion Ca dan Mg sudah terikat oleh EDTA, larutan yang berwarna merah anggur akan berubah menjadi biru :
Rumus EDTA
Titrasi harus dilakukan kurang dari 5 menit untuk mengurangi kemungkinan terjadinya endapan CaCO3. Suhu titrasi paling baik pada suhu kamar, karena pada suhu rendah perubahan warna agak lambat dan pada suhu tinggi akan terjadi kerusakan indikator.
REAKSI :
ANALISIS AIR
1.Sumber Air
Sumber air yg dpt dimanfaatkan bagi kehidupan manusia dpt dibedakan mjd 3 golongan :
a. Air Angkasa
Mrpkn air yang berasal dr. Atmosfir yaitu hujan, embun, salju. Umumnya kualitas cukup baik, tetapi air angkasa tsb. Dpt mengakibatkan kerusakan pd logam yaitu timbulnya karat. Karena cenderung asam dengan kandungan nitrat, Sulfat, dan karbonat yang tinggi.
b. Air Permukaan
Mrpkn air yg berada dipermukaan, umumnya sumber air permukaan mrpkan air yg kurang baik utk langsung dikonsumsioleh manusiam krn ituperlu ada pengolahan. Misal : PDAM
c. Air Tanah
Mrpkan air yang sebagian terbentuk dari air hujan yg jatuh dipermukaan bumi dan sebagian meresap kedlm tanah.
Sebagai sumber air, tdpt dlm berbagai bentuk yaitu : mata air dan sumur (sumur gali dan bor). Air tanah memiliki kelebihan yaitu :...
Ketiga sumber air tersebut tdk berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dlm suatu siklus yang disebut daur Hidrologi. Siklus air diartikan sbg pergerakan yg dialami oleh air yang terdiri dari berbagai peristiwa :
- Evaporasi (penguapan air)
- Kondensasi (Pembentukan awan)
- Presipitasi (jatuhnya air ke bumi)
- Aliran air pd permukaan bumi dan didlm tanah.
Jadi siklus hidrologi adalah akibat panas, awan mendung, daya berat, air hujan jatuh ke bumi, air dimanfaatkan.
2. Istilah dalam kimia air
- Air baku yaitu air dari badan air yg diolah menjadi air minum dgn cara koagulasi, pengendapan, penyaringan dan penyucihamaan.
- Badan air yaitu tempat dan wadah diatas permukaan daratan yg berisi dan menghasilkan air yaitu rawa, danau, sungai, waduk.
- Baku mutu air yaitu batas kadar zat atau bahan pencemar yg terdpt dlm air utk tetap berfungsi sesuai dgn golongan peruntukannnya.
- Air minum yaitu air yang tidak melalui proses pengolahan air yang bisa langsung dikonsumsi. Digunakan tanpa melalui proses pengolahan dgn memenuhi syarat fisika. Kimia, radioaktif dan mikrobiologi.
- Air bersih yaitu air yang harus melalui pengolahan untuk dapat dikonsumsi.
Sesuai PP No.20 tahun 1990 sesaui dgn peruntukannya air dapat digolongkan mjd :
Golongan A yaitu air yang dpt digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa melalui pengolahan.
Golongan B yaitu air yang bisa digunakan sbg bahan baku air minum
Golongan C yaitu air yang diperuntukkan untuk keperluan industri dan peternakan
Golongan D yaitu air yang diperuntukkan untuk pertanian dan PLTA.
Penentuan standart kualitas air minum berdasarkan pertimbangan :
1. Bahan-bahan beracun yg bila kadarnya dlm air melebihi batas akan membahayakan kesehatan misalnya : Timbal, Selenium, Arsen, Kromium, Sianida, Kadmium dan Air raksa.
2. Bahan-bahan kimia spesifik yg dpt mempengaruhi kesehatan jika kadarnya dlm air melebihi batas akan merugikan kesehatan misalnya : Fluorida, Nitrat.
3. Bahan kimia / sifat fisik yg mempengaruhi air minum yaitu : Mn, Pb, Zn, Ca, Mg, SO4, Cl dan Fenol.
4. Bahan kimia yg mrpkn petunjuk adanya pencemaran yaitu Zat organik, BOD, COD, NO2, fosfat.
Minyak adalah istilah umum untuk semua cairan organik yang tidak larut/bercampur dalam air (hidrofobik) tetapi larut dalam pelarut organik. Ada sifat tambahan lain yang dikenal awam: terasa licin apabila dipegang. Dalam arti sempit, kata 'minyak' biasanya mengacu ke minyak bumi (petroleum) atau produk olahannya: minyak tanah (kerosena). Namun demikian, kata ini sebenarnya berlaku luas, baik untuk minyak sebagai bagian dari menu makanan (misalnya minyak goreng), sebagai bahan bakar (misalnya minyak tanah), sebagai pelumas (misalnya minyak rem), sebagai medium pemindahan energi, maupun sebagai wangi-wangian (misalnya minyak nilam).
Minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform (CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya yang polaritasnya sama.
Minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti “triester dari gliserol”. Jadi minyak juga merupakan senyawaan ester. Hasil hidrolisis minyak adalah asam karboksilat dan gliserol. Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang.
ANALISIS MINYAK DAN LEMAK
Analisa lemak dan minyak lebih mudah dianalisa karena molekul lemak dan minyak relatif lebih kecil dan kurang kompleks dibandingkan dengan molekul karbohidrat dan protein.
Analisa lemak dan minyak umum yang dilakukan pada bahan makanan digolongkan dalam 3 kelompok tujuan :
1. Penentuan kadar lemak atau minyak yang terdapat dalam bahan makanan atau bahan pertanian
2. Penentuan kualitas minyak murni sebagai bahan makanan yang berkaitan dengan proses ekstraksinya atau ada tidaknya pemurnian lanjutan seperti penjernihan (refining), penghilangan bau (deodorizing), penghilangan warna (bleaching) dan lain-lain
3. Penentuan sifat fisis atau kimia khas yang mencirikan sifat minyak tertentu.
Ekstraksi merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar lemak dalam suatu bahan. Sebagai senyawa hidrokarbon, lemak dan minyak pada umumnya tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik.
Pelarut yang umum digunakan untuk ekstraksi lemak adalah heksan, ether atau khloroform. Pemilihan pelarut yang paling sesuai adalah dengan menentukan derajat polaritasnya. Pada dasarnya suatu bahan akan mudah larut dalam pelarut yang sama polaritasnya. Karena polaritas lemak berbeda-beda maka tidak ada bahan pelarut umum (universal) untuk semua macam lemak. Contoh di bawah ini menunjukkan beberapa jenis bahan pelarut yang sesuai untuk ekstraksi lemak tertentu :
1. Senyawa trigliserida yang bersifat nonpolar akan mudah diektraksi dengan pelarut-pelarut nonpolar, misalnya heksan atau petroleum ether.
2. Glikolipida yang polar akan mudah diekstraksi dengan alkohol yang polar.
3. Lesitin akan mudah larut dalam pelarut yang sedikit asam misalnya alkohol.
4. Fosfolipida yang bersifat polar dan asam akan mudah larut dalam khloroform yang sedikit polar dan basa. Senyawa ini tidak larut dalam alkohol.
Petroleum ether atau heksan adalah bahan pelarut lemak nonpolar yang paling banyak digunakan karena harganya relatif murah, kurang berbahaya terhadap risiko kebakaran dan ledakan, serta lebih selektif untuk lemak nonpolar.
Sebagian lemak terdapat dalam keadaan terikat (secara erat) dengan protein atau bahan-bahan lain, sehingga ekstraksi dengan pelarut tidak akan dapat melarutkannya. Salah satu tingkat persiapan penentuan jumlah lemak secara kuantitatif adalah pemecahan ikatan lipida dengan protein tersebut misalnya dengan asam.
Penentuan kadar lemak dengan pelarut, selain lemak juga terikut fosfolipida, sterol, asam lemak bebas, karotenoid dan pigmen yang lain. Karena itu hasil analisanya disebut lemak kasar (crude fat).
Pengolahan minyak
Minyak yang dijumpai di pasaran dapat berupa zat murni, tetapi umumnya adalah larutan/campuran. Proses pengolahan minyak murni (penyulingan / kilang minyak) biasanya mencakup pemisahan dari bahan-bahan residu diikuti dengan pendinginan (kondensasi). Proses pencampuran dengan bahan-bahan tertentu jika diperlukan dapat dilakukan setelahnya.
Dalam pembentukkan minyak, enzim denaturase akan membantu memasukkan ikatan rangkap pada posisi tertentu di rantai asam lemak. Enzim akan terus bekerja berurutan hingga menghasilkan produk akhir yaitu minyak.
Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Pengolahan air limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:
1. Pengolahan Awal (Pretreatment)
Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
2. Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)
Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization, chemical addition and coagulation, flotation, sedimentation, dan filtration.
3. Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment)
Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated lagoon, stabilization basin, rotating biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.
4. Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment)
Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange, membrane separation, serta thickening gravity or flotation.
5. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet combustion, pressure filtration, vacuum filtration, centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau landfill.
Pemilihan Teknologi
Pemilihan proses yang tepat didahului dengan mengelompokkan karakteristik kontaminan dalam air limbah dengan menggunakan indikator parameter yang sudah ditampilkan di tabel di atas. Setelah kontaminan dikarakterisasikan, diadakan pertimbangan secara detail mengenai aspek ekonomi, aspek teknis, keamanan, kehandalan, dan kemudahan peoperasian. Pada akhirnya, teknologi yang dipilih haruslah teknologi yang tepat guna sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah. Setelah pertimbangan-pertimbangan detail, perlu juga dilakukan studi kelayakan atau bahkan percobaan skala laboratorium yang bertujuan untuk:
1. Memastikan bahwa teknologi yang dipilih terdiri dari proses-proses yang sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah.
2. Mengembangkan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk menentukan efisiensi pengolahan yang diharapkan.
3. Menyediakan informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk penerapan skala sebenarnya.
Sedimentation. Sebuah primary sedimentation tank di sebuah unit pengolahan limbah domestik. Sedimentation tank merupakan salah satu unit pengolahan limbah yang sangat umum digunakan.
Bottomline, perlu kita semua sadari bahwa limbah tetaplah limbah. Solusi terbaik dari pengolahan limbah pada dasarnya ialah menghilangkan limbah itu sendiri. Produksi bersih (cleaner production) yang bertujuan untuk mencegah, mengurangi, dan menghilangkan terbentuknya limbah langsung pada sumbernya di seluruh bagian-bagian proses dapat dicapai dengan penerapan kebijaksanaan pencegahan, penguasaan teknologi bersih, serta perubahan mendasar pada sikap dan perilaku manajemen. Treatment versus Prevention? Mana yang menurut teman-teman lebih baik?? Saya yakin kita semua tahu jawabannya. Reduce, recyle, and reuse.
proses pengolahan air
1. Air Pendingin
Pada umumnya air digunakan sebagai media pendingin karena faktor-faktor sebagai berikut:
a. Air merupakan malcri yang dapat diperoleh dalam jumlah besar.
b. Mudah dalam pcngaturan dan pengolahan.
c. Menyerap panas yang relatif tinggi persatuan volume.
d. Tidak mudah menyusut secara berarti dalam batasan dengan adanya perubahan temperatur pendingin.
e. Tidak terdekomposisi.
Adapun syarat-syarat air yang digunakan sebagai media pendingin:
a. Jernih, maksudnya air harus bersih, tidak terdapat partikel-parlikel kasar yaitu batu, krikil atau partikel-partikel halus seperti pasir, tanah dan lumut yang dapat menyebabkan air kotor.
b. Tidak menyebabkan korosi.
c. Tidak menyebabkan fouling, fouling disebabkan oleh kotoran yang terikut saat air masuk unit pengolahan air, disamping pasir, mikroba dan zat-zat organik.
2. Air Umpan Boiler ( Boiler Feed Water )
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penangan air umpan boiler, air tersebut hams mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
a. Air bebas dari zat-zat yang dapat menyebabkan korosi.
Korosi yang terjadi dalam boiler disebabkan air mengadung larutan-larutan asam, gas-gas terlarut seperti O2, CO2,H2S dan NaHCO3 masuk karena aerasi maupun kotak dengan udara luar.
b. Air bebas dari zat yang dapat menyebabkan scale forming Pembentukan kerak disebabkan karena adanya kesadahan dan suhu tinggi, yang biasanya berupa garam-garam karbonat dan silikat.
c. Air bebas dari zat yang dapat menyebabkan foaming
Air yang diambil kembali dari hasil pemanasan biasanya menyebabkan foaming pada boiler karena adanya zat-zat organik dan zat-zat yang tidak terlarut dalam jumlah besar. Efek pembusaan terutama terjadi pada alkalinasi tinggi.
3. Air Minum, Kebutuhan Rumah Tangga dan Kantor
Air yang digunakan sebagai air minum, kebutuhan rumah tangga dan kantor, Harus mempunyai syarat-syarat sebagai berikut :
• Persyaratan fisika
- Air harusjernih, tidak keruh
- Tidak berwarna
- Tidak berasa / rasanya tawar
- Tidak berbau
- Temperatur normal ( 20۫- 26 ۫C )
- Tidak mengandung padatan
• Persyaralan kimia
- Ph neual ( Ph = 7 )
- Tidak mengandung bahan kimia beracun
- kesadahan rendah
- Tidak mengandung zat organik
• Persyaratan biologis
- Tidak mengandung bakteri pathogen
- Tidak mengandung bakteri nonpathogen
4. Air Pemadam Kebakaran ( Hydrant)
Persyaratan air pemadam kebakaran adalah sebagai berikut:
a. Tidak mengandung padatan seperti pasir, batuan kerikil
b. Tidak mengandung kotoran seperti daun, sampah
Pengolahan Air
Kebutuhan air dalam suatu pabrik dapat diambil dari sumber yang ada disekitar pabrik dengan mengolah terlebih dahulu agar memenuhi syarat yang digunakan. Pengolahan tersebut dapat meliputi pengolahan secara fisika dan kimia, penambahan desinfektan maupun dengan penggunaan ion exchanger.
Tahapan penjernihan air, yaitu :
a. Pemisahan kotoran air sungai
b. Flokulasi
c. Penyaringan dengan sand filter
a. Pemisahan Kotoran Air Sungai
Dalam tahapan ini air sungai ditampung terlebih dahulu ke dalam bak penampung yang selanjutnya dialirkan ke bak pengendap dan akan mengalami proses pengendapan terhadap partikel-partikel yang terikut masuk bersama air seperti pasir, kerikil, lumpur dan lain-lain.
b. Flokulasi
Setelah mengalami pengendapan, air kemudian dialirkan ke bak flokulator.Pada bak ini terjadi penambahan koagulan yang fungsinya untuk fluk-fluk yang makin lama akan bersatu dan membentuk partikel yang lebih besar dan dilakukan pengadukan untuk mencampur air dengan bahan koagulan (Al2(SO4)3.18H2O) dan larutan (Na2SO3) yang bertujuan untuk menurunkan kesadahan air.
Persamaan Reaksi :
CaCO3 + Na2SO4CaSO4 + Na2CO3
CaCO3 + 2NaClCaCl2 + Na2CO3
8Al(OH)3 – 3 Na2SO4 – 6H2O6NaAlO2 – Al2(SO4)3.18H2O
Dari bak flokulator, air kemudian dialirkan ke dalam clarifier dimana pada tangki ini akan terjadi penggumpalan yang lebih sempurna dari fluk-fluk yang berasal dari bak flokulator yang kemudian diendapkan secara gravitasi dan pada waktu tertentu dilakukan blow down untuk membuang endapan yang terbentuk sebelumnya.Air bersih keluar dari clarifier secara over flow.
c. Penyaringan
Air dari Clarifier dimasukkan ke dalam bak saringan pasir (sand filter) yang tersusun atas screen, kerikil, pasir, arang dan ijuk untuk menahan atau menyaring partikel-partikel padat yang lolos atau terbawa bersama air dari clarifier.Kemudian diteruskan ke bak air bersih lalu dialirkan ke bak air minum dengan ditambahkan kaporit sehingga didapat air ;ang bebas penyakit dan bau.
Demineralisasi
Untuk umpan ketel (boiler) dibutuhkan air yang memenuhi persyaratan bebas dari garam-garam mineral yang terlarut. Proses demineralisasi dimaksudkan untuk menghilangkan ion-ion yang terkandung pada filtered water. Adapun tahapan proses pengolahan air untuk umpan ketel adalah sebagai berikut:
a. Kation Exchanger
Menara kation berfungsi untuk menghilangkan kesadahan air yang disebabkan oleh garam-garam kation yang berisi resin.
Reaksi pelunakan air pada kation exchanger:
2NaHCO2 + CaZCa(HCO3)2 + Na2Z
2NaHC03 + MgZMg(HCO3)2 + Na2Z
2Na2S04 + CaZCaS04 + Na2Z
2Na2SO4 + MgZMgSO4 + Na2Z
2NaCl + CaZCaCI2 + Na2Z
2NaCl + MgZMgCl2 + Na2Z
Dalam jangka waktu tertentu, kation resin ini akan jenuh sehingga perlu di regenerasi.
Na2Z + CaCl2CaZ + 2NaCl
Na2Z + MgCl2MgZ + 2NaCl
b. Anion Exchanger
Menara anion berfungsi untuk mengikat ion-ion negatif (anion) yang terlarut dalam air, dengan resin bersifat basa.
Reaksi pelur akan air pada anion exchanger:
RNH3ClRNH2 + HCI
(RNH3)2 CO3 + 2H2O2RNH3OH + H2C03
Dalam jangka waktu tertentu, kation resin ini akan jenuh sehingga perlu di regenerasi.
RNH2 + NaCl + H2ORNH3Cl + NaOH
2RNH3OH + Na2CO3(RNH3)2CO3 + 2NaOH
c. Deaerasi
Dearasi adalah proses pembebasan air umpan ketel dari gas-gas terlarut seperti oksigen (O2) dan carbon dioksida (CO2). Air yang telah diinjeksikan (polish water) dipompakan ke dalam deaerator dan diinjeksikan hidrazin (N2H4) untuk mengikat oksigen yang terkandung dalam air sehingga dapat mencegah terbentuknya kerak (scale) pada tube boiler.
Reaksi
N2H4 + O2 → 2 H2O + N2
Kedalaman deaerator juga dimasukkan low condensat yang berfungsi sebagai media pemanas.
Air yang keluar dari deaerator dialirkan dengan pompa sebagai air umpan boiler(boiler feed water).
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Salah satu kekayaan alam yang dimiliki oleh negara Indonesia adalah sumber air panas. Sumber air panas ini hampir menyebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan banyaknya gunung api yang ada di Indonesia. Diantaranya di Propinsi Sumatera Barat, yaitu di Solok, Cagar Alam Panti Pasaman, desa Aia Angek Maninjau, dan Aia Angek Padang Panjang.
Salah satu sumber air panas terdapat di desa Aia Angek Maninjau Kab. Agam Sumatera Barat. Pada umumnya masyarakat memanfaatkan sumber air panas untuk rekreasi dan tempat pemandian. Namun, di desa Aia Angek Maninjau pemanfaatan air panas belum optimal. Sumber air panas yang mereka miliki tidak dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi. Hal ini disebabkan karena kondisi tempat sumber air panas tersebut sempit sehingga tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat rekreasi. Selain itu, lingkungan di sekitar tempat pemandian air panas tersebut kurang menarik wisatawan untuk berkunjung ke sana. Permasalahan lain yaitu masih kurangnya sarana dan prasarana. Ini disebabkan kurangnya biaya untuk merenovasi tempat itu. Sementara pemilik tempat pemandian tersebut menginginkan bantuan dari pemerintah setempat. Sehingga pemanfaatan sumber air panas hanya sebatas tempat pemandian saja.. Padahal sumber air panas di Maninjau berpotensi untuk dijadikan sebagai alternatif pengobatan penyakit kulit.
Adapun manfaat yang diperoleh setekah mandi di pemandian air panas tersebut adalah dapat mengobati rematik, gatal-gatal, kelelahan, dan sebagainya. Hal ini didukung oleh pernyataan bapak Syukri (74 tahun) yang menyatakan bahwa air panas dapat dijadikan sebagai obat dan berkhasiat untuk mengobati rematik dan gatal-gatal. Ini disebabkan karena pada air panas terdapat mineral yang tinggi seperti kalsium, litium, radium dan sulfur. Sulfur mempunyai banyak kegunaan, diantaranya dapat membunuh kuman dan bakteri tertentu pada kulit, misalnya untuk mengobati gatal-gatal, panu dan kurap.
Pemanfaatan sulfur bisa dilakukan salah satunya dengan membuat sejenis balsem, dengan cara mengekstraksi sulfur untuk dijadikan bahan utama balsem. Masyarakat di desa Maninjau belum mampu untuk memanfaatkan sulfur yang terdapat pada sumber air panas untuk bisa dijadikan sejenis balsem. Hal ini tidak tertutup kemungkinan untuk daerah lain yang memiliki potensi sumber daya air panas untuk memanfaatkan sulfur menjadi balsem.
Berdasarkan fenomena dan permasalahan diatas, penulis mencoba memberikan ide kreatif dan inovatif untuk dapat mengoptimalkan potensi sulfur yang terdapat pada sumber air panas. Oleh karena itu penulis memberikan sumbangan ide dengan memberi judul karya tulis ini dengan “Pengoptimalan Sumber Air Panas menjadi Balsem Sulfur (BALFUR)”
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini :
Mengetahui perbandingan komposisi bahan yang digunakan untuk menghasilkan balfur yang bentuk dan aroma yang sesuai.
Mengetahui kandungan yang terdapat dalam balfur.
Mengetahui pengaruh penggunaan balfur terhadap kulit manusia.
C. Manfaat Penulisan
Ada beberapa manfaat yang didapat dari penulisan makalah ini :
Sebagai bahan referensi bagi penulis untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai pemanfaatan sulfur.
Sebagai pemberian masukan bagi masyarakat untuk lebih memanfaatkan sulfur sebagai balsem.
Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk lebih mengoptimalkan pemakaian sulfur di dalam kehidupan masyarakat.
BAB II
GAGASAN
Mata air panas atau sumber air panas adalah mata air yang dihasilkan akibat keluarnya air tanah dari kerak bumi setelah dipanaskan secara geothermal. Air yang keluar suhunya di atas 370 C (suhu tubuh manusia), namun sebagian mata air panas mengeluarkan air bersuhu hingga di atas titik didihnya.
Air panas lebih dapat mengencerkan padatan mineral, sehingga air dari mata air panas mengandung kadar mineral tinggi, seperti kalsium, litium, radium dan sulfur. Mandi berendam di air panas bermineral dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Air yang keluarkan dari mata air panas dipanaskan oleh geothermal (panas bumi). Semakin dalam letak batu-batuan di dalam perut bumi, semakin meningkat pula temperatur batu-batuan tersebut. Peningkatan temperatur batuan berbanding dengan kedalaman yang disebut dengan gradien geothermal. Air merembes ke dalam kerak bumi, dan dipanaskan oleh permukaan batu yang panas. Air yang sudah dipanaskan keluar di mata air panas yang lokasinya jauh dari gunung berapi.
Di kawasan gunung berapi, air dipanaskan oleh magma hingga menjadi sangat panas. Air menjadi terlalu panas hingga membentuk tekanan uap, dan menyembur ke permukaan bumi sebagai geyser. Bila air hanya mencapai permukaan bumi dalam bentuk uap, maka disebut fumarol. Bila air tercampur dengan lumpur dan tanah liat, maka disebut kubangan lumpur panas.
(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mata_air_panas )
Air panas yang keluar dari mata air alami konon berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit karena mengandung belerang, terutama penyakit kulit. Belerang atau sulfur ini muncul dari dalam perut bumi karena “aktivitas” magma yang mendorong air dari sumber mata air keluar ke permukaan bumi dengan membawa belerang. Belerang atau sulfur adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang S dan nomor atom 16. Bentuknya adalah non-metal yang tak berasa, tak berbau dan multivalent. Belerang dalam bentuk aslinya adalah sebuah zat padat kristalin kuning. Di alam, belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai mineral- mineral sulfida dan sulfat. Belerang adalah unsur penting untuk kehidupan dan ditemukan dalam dua asam amino. Penggunaan komersilnya terutama dalam fertilizer namun juga dalam bubuk mesiu, korek api, insektisida dan fungisida. (Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mata_air_panas )
Namun tidak semua sumber air panas mengeluarkan belerang karena ada juga yang mengandung yodium atau mineral lainnya. Air yang mengandung belerang biasanya terlihat agak kekuning-kuningan. Sedangkan yang mengandung yodium berwarna kemerah-merahan. Belerang memang dapat membunuh kuman atau bakteri tertentu yang menyerang kulit. Akan tetapi tak semua penyakit kulit bisa disembuhkan hanya dengan berendam di pemandian air panas. hanya penyakit kulit yang tergolong ringan saja yang bisa diatasi.
Dalam beberapa bulan sekali, mandi air panas belerang dapat membantu meningkatkan kondisi kesehatan. Airnya yang bersuhu konstan sekitar 45° C menyebabkan pori-pori lebih terbuka, sehingga kulit mampu menyerap berbagai mineral penting lain. Selanjutnya, berendam di pemandian air panas belerang akan menyebabkan pembuluh darah melebar, meningkatkan sirkulasi darah sekaligus oksigenisasi jaringan. Manfaatnya adalah mencegah kekakuan otot, menghilangkan rasa nyeri sekaligus menenangkan pikiran. Efek hidrostatik dan hidrodinamik yang ditimbulkan juga dapat membantu menopang berat badan saat latihan berjalan. Sehingga mekanisme berendam di sumber air panas ini berkhasiat menyembuhkan pegal, rematik, kelumpuhan.
Namun mandi air belerang terlalu sering kurang baik, selain penyakitnya belum tentu sembuh, kulit pun akan rusak sebab tingkat keasaman air belerang cukup tinggi, sekitar 2-3 hingga dapat menyebabkan kulit kering. Sedangkan air yang ideal untuk digunakan berendam atau mandi sebaiknya memiliki pH netral 7. .
Untuk itu perlu pemanfaatan sulfur dalam bentuk esktrak belerang. Ekstrak belerang ini diproses melalui penguapan hingga terbentuk kerak atau endapan seperti halnya pembuatan garam dari air laut. Di beberapa lokasi pariwisata pemandian air panas, belerang yang berbentuk kerak tersebut umumnya dijual oleh masyarakat sekitar. Kerak inilah yang dapat digunakan sendiri di rumah. Dengan cara dimasukkan ke dalam ember atau bak mandi lalu dicampur air.
Tetapi cara seperti ini kurang efektif untuk dijadikan pengobatan karena selain repot dan hasil yang diinginkan kurang maksimal. Untuk itu salah satu solusinya adalah dengan pembuatan balsam sulfur (balfur).
(Sumber : http://www.tabloidnakita.com/ )
Balfur (balsem sulfur) merupakan balsem yang berbahan dasar sulfur. Kandungan sulfur dalam balsem ini bermanfaat sebagai obat antiseptik yang berguna untuk membunuh jamur.
Langkah-langkah pembuatan balfur ini adalah ssebagai berikut :
1. Alat dan bahan
Alat yang digunakan meliputi peralatan yang terdiri dari neraca teknis, gelas ukur, gelas kimia, batang pengaduk, dan wadah tempat balsem. Bahan yang digunakan adalah vaslin, lilin, minyak permint, minyak gandapura, minyak cengkeh, menthol, kanfer, dan sulfur.
Prosedur pembuatan
Langkah – langkah yang dilakukan dalam pembuatan balfur ini adalah :
Proses penentuan perbandingan komposisi balfur yang sesuai.
a. Pemisahan belerang dari sumber air panas
Metode yang digunakan adalah metode rekristalisasi yaitu metode pemisahan campuran berdasarkan kelarutannya dalam air.
Caranya :
Menyiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan.
Air yang berasal dari sumber air panas, dipanaskan sampai mencapai titik jenuhnya, kemudian pemanasan dihentikan.
Kemudian kristal yang terbentuk disaring dengan kertas saring.
b.Pembuatan balfur (balsem sulfur)
Caranya :
Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan.
Menimbang dan menakar zat yang digunakan sesuai dengan perbandingan yang diinginkan.
Vaslin kuning atau putih dan lilin dimasukkan ke dalam gelas kimia, dipanaskan sampai mencari.
Memasukkan minyak permint, minyak gandapura, sulfur, dan minyak cengkeh ke dalam cairan di atas (nomor 3).
Setelah di campur dengan sempurna, masukkan menthol kristal dan kanfer.
Mencampurkan semua bahan sampai sempurna, kemudian masukkan ke dalam wadah penyimpanan balsem.
Dalam waktu kurang lebih 15 balsem akan membeku.
Balsem siap digunakan.
Untuk mendapatkan perbandingan komposisi balfur yang bagus, usaha yang dapat dilakukan adalah memvariasikan perbandingan bahan yang digunakan sebagai berikut :
NO Komposisi Perlakuan
I II III
1 Vaslin 100 g 100 g 100 g
2 Lilin 10 g 10 g 10 g
3 Minyak permint 10 mL 10 mL 10 mL
4 Minyak gandapura 10 mL 10 mL 10 mL
5 Minyak cengkeh 10 mL 10 mL 10 mL
6 Menthol 10 g 10 g 10 g
7 Kanfer 5 g 5 g 5 g
8 Sulfur - 0,02 g 0,04 g
B. Kandungan yang Terdapat Di Dalam Balfur
Seperti halnya balsem biasa, kandungan balfur juga merupakan campuran dari berbagai macam senyawa kimia. Contohnya : vaslin, lilin, minyak permint, minyak gandapura, minyak cengkeh, menthol, kanfer, dan sulfur.
Adapun fungsi dari masing-masing komponen ini adlah sebagai berikut :
Vaslin berfungsi untuk melengketkan balsem pada kulit.
Lilin berfungsi untuk mengeraskan balsem.
Minyak permint berfungsi sebagai pemberi rasa mint.
Minyak gandapura diperoleh dengan cara penyulingan uap dari daun bcutherina pracumben yang mengandung metal salisilat berfungsi untuk pemberi rasa panas.
Minyak cengkeh berfungsi sebagai pemberi aroma pada balsem.
Menthol suatu senyawa yang terdadpat pada minyak atsari spesies menthol secara khusus berfungsi sebagai pemberi rasa dingin dan segar.
Kanfer berfungsi sebagai ekspektoran.
Sulfur berfungsi sebagai antiseptic yang dapat membunuh jamur. Sebaiknya digunakan 2-4 %.
C. Pengaruh penggunaan balfur terhadap kulit manusia.
Untuk melihat pengaruh balfur terhadap kulit manusia dapat dilakukan dengan cara melakukan pengujian terhadap kulit manusia itu sendiri. Pengujian dilakukan dengan dua variable bebasnya, dimana satu balsem biasa (tanpa sulfur) dan yang lainnya dengan menggunakan balfur. Dari pemberian dua jenis balsem yang berbeda, kita dapat melihat perbandingan pengaruh balsem biasa dengan balfur terhadap penyakit panu.
Selain berkhasiat untuk mengobati penyakit panu, pemakaian balfur juga memiliki efek samping yaitu menyebabkan kulit mudah kering. Untuk mengatasi hal ini hindari pemakaian yang berlebihan.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
Perbandingan komposisi bahan yang digunakan sehingga menghasilkan balfur dengan bentuk dan aroma yang sesuai adalah vaslin 100 g, lilin 10 g, minyak permint, minyak gandapura, dan cengkeh masing-masing 10 mL, menthol 10 g, kanfer 5 g, dan sulfur 2-4 %.
Kandungan yang terdapat dalam balfur yaitu vaslin, lilin, minyak gandapura, minyak permint, minyak cengkeh, menthol, kanfer, dan sulfur.
Pengaruh penggunaan balfur terhadap kulit manusia dapat dilakukan dengan melakukan pengujian terhadap kulit manusia itu sendiri.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini ada beberapa hal yang perlu disarankan yaitu bagi penulis sendiri dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang pemanfaatan sulfur. Selain itu, menjadi bahan masukan bagi masyarakat untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan sulfur yang terdapat pada sumber air panas di Maninjau. Terakhir bagi pemerintah agar mempertimbangkan pemanfaatan sulfur dalam sumber air panas untuk mengurangi penyakit panu.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Kimia Terapan. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Terapan. Padang : UNP.
Cotton, F Albert. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI-Pres.
http://cakmoki86.wordpress.com/category/kesehatan/ Diakses 26 Desember 2008
http://id.wikipedia.org/wiki/Mata_air_panas. Diakses: 23 Desember 2008
http://www.tabloid-nakita.com/artikel2.php3?edisi=07319&rubrik=klinikibu
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Salah satu kekayaan alam yang dimiliki oleh negara Indonesia adalah sumber air panas. Sumber air panas ini hampir menyebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan banyaknya gunung api yang ada di Indonesia. Diantaranya di Propinsi Sumatera Barat, yaitu di Solok, Cagar Alam Panti Pasaman, desa Aia Angek Maninjau, dan Aia Angek Padang Panjang.
Salah satu sumber air panas terdapat di desa Aia Angek Maninjau Kab. Agam Sumatera Barat. Pada umumnya masyarakat memanfaatkan sumber air panas untuk rekreasi dan tempat pemandian. Namun, di desa Aia Angek Maninjau pemanfaatan air panas belum optimal. Sumber air panas yang mereka miliki tidak dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi. Hal ini disebabkan karena kondisi tempat sumber air panas tersebut sempit sehingga tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat rekreasi. Selain itu, lingkungan di sekitar tempat pemandian air panas tersebut kurang menarik wisatawan untuk berkunjung ke sana. Permasalahan lain yaitu masih kurangnya sarana dan prasarana. Ini disebabkan kurangnya biaya untuk merenovasi tempat itu. Sementara pemilik tempat pemandian tersebut menginginkan bantuan dari pemerintah setempat. Sehingga pemanfaatan sumber air panas hanya sebatas tempat pemandian saja.. Padahal sumber air panas di Maninjau berpotensi untuk dijadikan sebagai alternatif pengobatan penyakit kulit.
Adapun manfaat yang diperoleh setekah mandi di pemandian air panas tersebut adalah dapat mengobati rematik, gatal-gatal, kelelahan, dan sebagainya. Hal ini didukung oleh pernyataan bapak Syukri (74 tahun) yang menyatakan bahwa air panas dapat dijadikan sebagai obat dan berkhasiat untuk mengobati rematik dan gatal-gatal. Ini disebabkan karena pada air panas terdapat mineral yang tinggi seperti kalsium, litium, radium dan sulfur. Sulfur mempunyai banyak kegunaan, diantaranya dapat membunuh kuman dan bakteri tertentu pada kulit, misalnya untuk mengobati gatal-gatal, panu dan kurap.
Pemanfaatan sulfur bisa dilakukan salah satunya dengan membuat sejenis balsem, dengan cara mengekstraksi sulfur untuk dijadikan bahan utama balsem. Masyarakat di desa Maninjau belum mampu untuk memanfaatkan sulfur yang terdapat pada sumber air panas untuk bisa dijadikan sejenis balsem. Hal ini tidak tertutup kemungkinan untuk daerah lain yang memiliki potensi sumber daya air panas untuk memanfaatkan sulfur menjadi balsem.
Berdasarkan fenomena dan permasalahan diatas, penulis mencoba memberikan ide kreatif dan inovatif untuk dapat mengoptimalkan potensi sulfur yang terdapat pada sumber air panas. Oleh karena itu penulis memberikan sumbangan ide dengan memberi judul karya tulis ini dengan “Pengoptimalan Sumber Air Panas menjadi Balsem Sulfur (BALFUR)”
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini :
Mengetahui perbandingan komposisi bahan yang digunakan untuk menghasilkan balfur yang bentuk dan aroma yang sesuai.
Mengetahui kandungan yang terdapat dalam balfur.
Mengetahui pengaruh penggunaan balfur terhadap kulit manusia.
C. Manfaat Penulisan
Ada beberapa manfaat yang didapat dari penulisan makalah ini :
Sebagai bahan referensi bagi penulis untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai pemanfaatan sulfur.
Sebagai pemberian masukan bagi masyarakat untuk lebih memanfaatkan sulfur sebagai balsem.
Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk lebih mengoptimalkan pemakaian sulfur di dalam kehidupan masyarakat.
BAB II
GAGASAN
Mata air panas atau sumber air panas adalah mata air yang dihasilkan akibat keluarnya air tanah dari kerak bumi setelah dipanaskan secara geothermal. Air yang keluar suhunya di atas 370 C (suhu tubuh manusia), namun sebagian mata air panas mengeluarkan air bersuhu hingga di atas titik didihnya.
Air panas lebih dapat mengencerkan padatan mineral, sehingga air dari mata air panas mengandung kadar mineral tinggi, seperti kalsium, litium, radium dan sulfur. Mandi berendam di air panas bermineral dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Air yang keluarkan dari mata air panas dipanaskan oleh geothermal (panas bumi). Semakin dalam letak batu-batuan di dalam perut bumi, semakin meningkat pula temperatur batu-batuan tersebut. Peningkatan temperatur batuan berbanding dengan kedalaman yang disebut dengan gradien geothermal. Air merembes ke dalam kerak bumi, dan dipanaskan oleh permukaan batu yang panas. Air yang sudah dipanaskan keluar di mata air panas yang lokasinya jauh dari gunung berapi.
Di kawasan gunung berapi, air dipanaskan oleh magma hingga menjadi sangat panas. Air menjadi terlalu panas hingga membentuk tekanan uap, dan menyembur ke permukaan bumi sebagai geyser. Bila air hanya mencapai permukaan bumi dalam bentuk uap, maka disebut fumarol. Bila air tercampur dengan lumpur dan tanah liat, maka disebut kubangan lumpur panas.
(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mata_air_panas )
Air panas yang keluar dari mata air alami konon berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit karena mengandung belerang, terutama penyakit kulit. Belerang atau sulfur ini muncul dari dalam perut bumi karena “aktivitas” magma yang mendorong air dari sumber mata air keluar ke permukaan bumi dengan membawa belerang. Belerang atau sulfur adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang S dan nomor atom 16. Bentuknya adalah non-metal yang tak berasa, tak berbau dan multivalent. Belerang dalam bentuk aslinya adalah sebuah zat padat kristalin kuning. Di alam, belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai mineral- mineral sulfida dan sulfat. Belerang adalah unsur penting untuk kehidupan dan ditemukan dalam dua asam amino. Penggunaan komersilnya terutama dalam fertilizer namun juga dalam bubuk mesiu, korek api, insektisida dan fungisida. (Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mata_air_panas )
Namun tidak semua sumber air panas mengeluarkan belerang karena ada juga yang mengandung yodium atau mineral lainnya. Air yang mengandung belerang biasanya terlihat agak kekuning-kuningan. Sedangkan yang mengandung yodium berwarna kemerah-merahan. Belerang memang dapat membunuh kuman atau bakteri tertentu yang menyerang kulit. Akan tetapi tak semua penyakit kulit bisa disembuhkan hanya dengan berendam di pemandian air panas. hanya penyakit kulit yang tergolong ringan saja yang bisa diatasi.
Dalam beberapa bulan sekali, mandi air panas belerang dapat membantu meningkatkan kondisi kesehatan. Airnya yang bersuhu konstan sekitar 45° C menyebabkan pori-pori lebih terbuka, sehingga kulit mampu menyerap berbagai mineral penting lain. Selanjutnya, berendam di pemandian air panas belerang akan menyebabkan pembuluh darah melebar, meningkatkan sirkulasi darah sekaligus oksigenisasi jaringan. Manfaatnya adalah mencegah kekakuan otot, menghilangkan rasa nyeri sekaligus menenangkan pikiran. Efek hidrostatik dan hidrodinamik yang ditimbulkan juga dapat membantu menopang berat badan saat latihan berjalan. Sehingga mekanisme berendam di sumber air panas ini berkhasiat menyembuhkan pegal, rematik, kelumpuhan.
Namun mandi air belerang terlalu sering kurang baik, selain penyakitnya belum tentu sembuh, kulit pun akan rusak sebab tingkat keasaman air belerang cukup tinggi, sekitar 2-3 hingga dapat menyebabkan kulit kering. Sedangkan air yang ideal untuk digunakan berendam atau mandi sebaiknya memiliki pH netral 7. .
Untuk itu perlu pemanfaatan sulfur dalam bentuk esktrak belerang. Ekstrak belerang ini diproses melalui penguapan hingga terbentuk kerak atau endapan seperti halnya pembuatan garam dari air laut. Di beberapa lokasi pariwisata pemandian air panas, belerang yang berbentuk kerak tersebut umumnya dijual oleh masyarakat sekitar. Kerak inilah yang dapat digunakan sendiri di rumah. Dengan cara dimasukkan ke dalam ember atau bak mandi lalu dicampur air.
Tetapi cara seperti ini kurang efektif untuk dijadikan pengobatan karena selain repot dan hasil yang diinginkan kurang maksimal. Untuk itu salah satu solusinya adalah dengan pembuatan balsam sulfur (balfur).
(Sumber : http://www.tabloidnakita.com/ )
Balfur (balsem sulfur) merupakan balsem yang berbahan dasar sulfur. Kandungan sulfur dalam balsem ini bermanfaat sebagai obat antiseptik yang berguna untuk membunuh jamur.
Langkah-langkah pembuatan balfur ini adalah ssebagai berikut :
1. Alat dan bahan
Alat yang digunakan meliputi peralatan yang terdiri dari neraca teknis, gelas ukur, gelas kimia, batang pengaduk, dan wadah tempat balsem. Bahan yang digunakan adalah vaslin, lilin, minyak permint, minyak gandapura, minyak cengkeh, menthol, kanfer, dan sulfur.
Prosedur pembuatan
Langkah – langkah yang dilakukan dalam pembuatan balfur ini adalah :
Proses penentuan perbandingan komposisi balfur yang sesuai.
a. Pemisahan belerang dari sumber air panas
Metode yang digunakan adalah metode rekristalisasi yaitu metode pemisahan campuran berdasarkan kelarutannya dalam air.
Caranya :
Menyiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan.
Air yang berasal dari sumber air panas, dipanaskan sampai mencapai titik jenuhnya, kemudian pemanasan dihentikan.
Kemudian kristal yang terbentuk disaring dengan kertas saring.
b.Pembuatan balfur (balsem sulfur)
Caranya :
Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan.
Menimbang dan menakar zat yang digunakan sesuai dengan perbandingan yang diinginkan.
Vaslin kuning atau putih dan lilin dimasukkan ke dalam gelas kimia, dipanaskan sampai mencari.
Memasukkan minyak permint, minyak gandapura, sulfur, dan minyak cengkeh ke dalam cairan di atas (nomor 3).
Setelah di campur dengan sempurna, masukkan menthol kristal dan kanfer.
Mencampurkan semua bahan sampai sempurna, kemudian masukkan ke dalam wadah penyimpanan balsem.
Dalam waktu kurang lebih 15 balsem akan membeku.
Balsem siap digunakan.
Untuk mendapatkan perbandingan komposisi balfur yang bagus, usaha yang dapat dilakukan adalah memvariasikan perbandingan bahan yang digunakan sebagai berikut :
NO Komposisi Perlakuan
I II III
1 Vaslin 100 g 100 g 100 g
2 Lilin 10 g 10 g 10 g
3 Minyak permint 10 mL 10 mL 10 mL
4 Minyak gandapura 10 mL 10 mL 10 mL
5 Minyak cengkeh 10 mL 10 mL 10 mL
6 Menthol 10 g 10 g 10 g
7 Kanfer 5 g 5 g 5 g
8 Sulfur - 0,02 g 0,04 g
B. Kandungan yang Terdapat Di Dalam Balfur
Seperti halnya balsem biasa, kandungan balfur juga merupakan campuran dari berbagai macam senyawa kimia. Contohnya : vaslin, lilin, minyak permint, minyak gandapura, minyak cengkeh, menthol, kanfer, dan sulfur.
Adapun fungsi dari masing-masing komponen ini adlah sebagai berikut :
Vaslin berfungsi untuk melengketkan balsem pada kulit.
Lilin berfungsi untuk mengeraskan balsem.
Minyak permint berfungsi sebagai pemberi rasa mint.
Minyak gandapura diperoleh dengan cara penyulingan uap dari daun bcutherina pracumben yang mengandung metal salisilat berfungsi untuk pemberi rasa panas.
Minyak cengkeh berfungsi sebagai pemberi aroma pada balsem.
Menthol suatu senyawa yang terdadpat pada minyak atsari spesies menthol secara khusus berfungsi sebagai pemberi rasa dingin dan segar.
Kanfer berfungsi sebagai ekspektoran.
Sulfur berfungsi sebagai antiseptic yang dapat membunuh jamur. Sebaiknya digunakan 2-4 %.
C. Pengaruh penggunaan balfur terhadap kulit manusia.
Untuk melihat pengaruh balfur terhadap kulit manusia dapat dilakukan dengan cara melakukan pengujian terhadap kulit manusia itu sendiri. Pengujian dilakukan dengan dua variable bebasnya, dimana satu balsem biasa (tanpa sulfur) dan yang lainnya dengan menggunakan balfur. Dari pemberian dua jenis balsem yang berbeda, kita dapat melihat perbandingan pengaruh balsem biasa dengan balfur terhadap penyakit panu.
Selain berkhasiat untuk mengobati penyakit panu, pemakaian balfur juga memiliki efek samping yaitu menyebabkan kulit mudah kering. Untuk mengatasi hal ini hindari pemakaian yang berlebihan.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
Perbandingan komposisi bahan yang digunakan sehingga menghasilkan balfur dengan bentuk dan aroma yang sesuai adalah vaslin 100 g, lilin 10 g, minyak permint, minyak gandapura, dan cengkeh masing-masing 10 mL, menthol 10 g, kanfer 5 g, dan sulfur 2-4 %.
Kandungan yang terdapat dalam balfur yaitu vaslin, lilin, minyak gandapura, minyak permint, minyak cengkeh, menthol, kanfer, dan sulfur.
Pengaruh penggunaan balfur terhadap kulit manusia dapat dilakukan dengan melakukan pengujian terhadap kulit manusia itu sendiri.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini ada beberapa hal yang perlu disarankan yaitu bagi penulis sendiri dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang pemanfaatan sulfur. Selain itu, menjadi bahan masukan bagi masyarakat untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan sulfur yang terdapat pada sumber air panas di Maninjau. Terakhir bagi pemerintah agar mempertimbangkan pemanfaatan sulfur dalam sumber air panas untuk mengurangi penyakit panu.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Kimia Terapan. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Terapan. Padang : UNP.
Cotton, F Albert. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI-Pres.
http://cakmoki86.wordpress.com/category/kesehatan/ Diakses 26 Desember 2008
http://id.wikipedia.org/wiki/Mata_air_panas. Diakses: 23 Desember 2008
http://www.tabloid-nakita.com/artikel2.php3?edisi=07319&rubrik=klinikibu
1. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan standarisasi dan penentuan cuplikan dengan titrasi redoks
.
2. PERINCIAN KERJA
1. Melakukan standarisasi larutan KMnO4
2. Menentukan kadar besi dalam larutan
3. DASAR TEORI
Titrasi redoks merupakan titrasi yang didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi antara
analit dan titran. Titrasi redoks banyak digunakan untuk penentuan sebagian besar logam-logam. Indicator yang digunakan pada titrasi ini menggunakan berbagai cara kerja. Pada titrasi yang menggunakan KMnO4 tidak menggunakan suatu larutan indicator, tetapi larutan KMnO4 itu sendiri dapat bertindak sebagai indicator.
Beberapa titrasi redoks menggunakan amilum sebagai indicator, khususnya titrasi redoks yang melibatkan iodine. Indikator yang lain yang bersifat reduktor/oksidator lemah juga sering dipakai untuk titrasi redoks jika kedua indicator diatas tidak dapat diaplikasikan, misalnya ferroin, metilen, blue, dan nitroferoin. Contoh titrasi redoks yang terkenal adalah iodimetri. Iodometri, permanganometri menggunakan titrant kalium permanganat untuk penentuan Fe2+ dan Oksalat, Kalium dikromat dipakai untuk titran penentuan Besi(II) dan Cu(I) dalam CuCl. Bromat dipakai sebagai titrant untuk penentuan fenol, dan iodida (sebagai I2 yang dititrasi dengan tiosulfat.), dan Cerium(IV) yang bisa dipakai untuk titrant titrasi redoks penentuan ferosianida dan nitrit.
Titik akhir dari suatu titrasi redoks dapat dilakukan dengan mebuat kurva titrasi antara potensial larutan dengan volume titran atau dapat juga menggunakan indicator. Dengan memandang tingkat kemudahan dan efisiensi maka titrasi redoks dengan indicator sering kali yang banyak dipilih. Beberapa titrasi redoks menggunakan warna titrant sebagai indicator contohnya penentuan oksalat dengan permanganate, atau penentuan alkohol dengan kalium dikromat.
3.1 Kalium Permanganat
Kalium permanganat digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Zat ini merupakan pereaksi yang mudah diperoleh, tidak mahal dan tidak memerlukan suatu indicator kecuali kalau digunakan larutan-larutan yang sangat encer. Satu tetes KMnO4 0,1 N memberikan suatu warna merah muda yang jelas pada larutan dalam titrasi. Permanganat mengalami reaksi kimia yang bermacam-macam, karena mangan dapat berada dalam keadaan-keadaan oksidasi +2, +3, +4, +5, +6, +7. Untuk reaksi yang berlangsung dalam larutan yang asam akan terjadi reaksi :
MnO4 -+ 8H+ + 5e <=> Mn 2++ 4H2O
Sedangkan untuk reaksi dalam larutan berasam rendah :
MnO4 -+ 8H+ + 3e <=> MnO2 + 2H2O
Reaksi yang paling banyak digunakan adalah reaksi pada larutan yang sangat asam, dimana permanganat bereaksi dengan sangat cepat.
3.2 Natrium Oksalat
Senyawa ini merupakan standar primer yang baik bagi permanganat dalam larutan berasam. Dapat diperoleh dalam derajat kemurnian yang tinggi, stabil pada pemanasan dan tidak higroskopis. Reaksi dengan permanganat agak komplek dan sekalipun banyak penelitian yang telah dilakukan, namun mekanisme yang tepat tidak jelas. Reaksinya lambat pada suhu kamar. Oleh kareana itu biasanya larutan dipanaskan pada suhu 600C. Pada kenaikan suhu, pada awalnya reaksi berjalan lambat, tetapi kecepatan meningkat setelah ion mangan (II) terbentuk. Mangan (II) bertindak sebagai suatu katalis dan reaksinya dinamakan otokatalitik karena katalis dihasilkan oleh reaksinya sendiri. Ionnya mungkin mempengaruhi efek katalitiknya dengan cepat bereaksi dengan permanganat untuk membentuk mangan dari keadaan oksidasi antara +3 dan +4 yang selanjutnya dengan cepat mengoksidasi ion oksalat, kembali keadaan divalent. Adapun reaksinya adalah :
5C2O42- + 2MnO4 + 16H+ → 2Mn 2+ + 10 CO2 + 8H2O
Fowler dan bright melakukan suatu penelitian yang sangat mendalam terhadap kesalahan-kesalahan yang mungkin didalam titrasi. Mereka menemukan beberapa bukti dari pembentukan peroksida
O2 + H2C2O4 → H2O2 + 2 CO2
Dan apabila perioksida terurai sebelum bereaksi dengan permanganat, terlalu sedikit larutan permanganat yang diperlukan sehingga dari perhitungan normalitasnya tinggi. Mereka menyarankan agar hampir semua permanganat ditambahkan dengan cepat dalam larutan dipanaskan sampai 60 0C dan titrasi diselesaikan pada suhu ini.
4. ALAT YANG DIGUNAKAN
• Kaca Arloji 2 buah
• Erlenmeyer 250 ml 6 buah
• Buret 50 ml 2 buah
• Pipet Ukur 25 ml 4 buah
• Gelas Kimia 100 ml, 250 ml 2 buah
• Labu Takar 100 ml, 250 ml, 500 ml 2 buah
• Spatula 2 buah
• Bola Karet 4 buah
• Hot Plate 2 buah
• Termometer 2 buah
5. BAHAN YANG DIGUNAKAN
• Na2C2O4 padatan 0,3 gram
• H2SO4 12,5 ml
• KMnO4 padatan 0,7902 gram
• FeSO4.7H2O padatan 4 gram
6. PROSEDUR PERCOBAAN
6.1 Standarisasi Larutan KMnO4
• Membuat larutan 0,1 N KMnO4
• Mengeringkan Natrium Oksalat dalam Oven pada suhu 105-110 oC selama 2 jam
setelah itu mendinginkannya dalam desikator.
• Menimbang Natrium Oksalat sebanyak 300 mg dan memasukkannya kedalam
erlenmeyer.
• Melarutkan 12,5 ml H2SO4 pekat dalam 250 ml air ( hati-hati )
• Memasukan larutan H2SO4 kedalam erlenmeyer yang berisi Natrium Oksalat.
Mengkocoknya dan mendinginkannya sampai 24 oC.
• Mentitrasi dengan 0,1 N KMnO4 sampai volume 35 ml. lalu dipanaskan sampai
50-60 oC. dan melanjutkan titrasi setetes demi setetes hingga berubah warna yaitu
merah muda.
6.2 Penentuan Besi Dengan KMnO4
• Melarutkan 4 gram cuplikan FeSO4.7H2O dalam air demineral 100 ml.
• Memipet 25 ml larutan cuplikan kedalam erlenmeyer 250 ml dan menambahkan
25ml 0,5 M H2SO4.
• Mentitrasi dengan larutan standar 0,1 N KMnO4 sampai warna merah muda tidak
berubah lagi.
1. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan jumlah mol air kristal yang terikat dalam suatu senyawa.
1. LANDASAN TEORI
Analisis gravimetri ini merupakan salah satu teknik analisis kuantitatif yang menggunakan gravi / berat. Pada dasarnya, gravimetri dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu penguapan, elektrolisis dan pengendapan. Salah satu contoh penguapan metode gravimetri adalah dalam penentuan air / hidrat dalam Barium klorida dengan cara menghilangkan semua hidrat kristal di atas suhu 100oC (Anonim, http://duniainikecil.wordpress.com). Teknik ini diawali dengan penimbangan sampel lalu dilakukan pelarutan dan pengendapan pada larutan tersebut dengan pereaksi pengendap kemudian dilakukan penyaringan endapan yang terbentuk. Kemudian endapan yang telah disaring diabukan dengan pembakar suhu tinggi seperti meker dean tanur dan diakhiri dengan penimbangan sampai diapatkan bobot tetap (Nur, http://r3xr4ptor.wordpress.com).
Langkah pengukuran pada gravimetri adalah pengukuran berat. Analit secara fisik dipisahkan dari semua komponen lainnya maupun dengan solvennya. Persyaratan yang harus dipenuhi agar garvimetri dapat berhasil ialah terdiri dari proses pemisahan yang harus cukup sempurna sehingga kualitas analit yang tidak mengendap secara analit tidak ditentukan dan zat yang ditimbang harus mempunyai susunan tertentu dan harus murni atau mendekati murni. Jika tidak demikian hasil yang akan diperoleh akan salah. Pada umumnya dua hal yang perlu diingat pada penentuan faktor garvimetri; yaitu berat molekul analit yang merupakan pembilang dan berat zat yang ditimbang yang merupakan penyebut (Underwood, 1993).
Hal yang perlu diperhatikan dalam analisis penentuan kadar zat berdasarkan pengukuran berat analit atau senyawa yang mengandung analit dapat dilakukan dengan :
* Metode pengendapan
Isolasi endapan sukar larut dari suatu komposisi yang tak diketahui
* Metode penguapan
Larutan yang mengandung analit diuapkan, ditimbang dan kehilangan berat dihitung.
(Gusdinar, 1998)
Setelah didapat endapan, endapan dipisahkan dan dikeringkan melalui proses pemijaran. Pemijaran adalah proses pemanasan endapan yang dilakukan bersama dengan kertas saring. Pemijaran dilakukan pada suhu yang cukup panas sehingga diperoleh endapan kering yang dapat di timbang. Suhu dan lamanya pemijaran tergantung sifat-sifat endapan (Anonim, http://en.wikipedia.org)
Gambar ASLEP – Lunar – Gravimeter (Anonim, http://soschem.com)
1. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang dugunakan pada percobaan ini adalah:
* Oven pemijar
* Cawan porselin
* Gegep
* Eksikator
* Neraca Analitik
1. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Barium klorida X hidrat (BaCl2.XH2O).
1. PROSEDUR KERJA
Cawan porselin
BaCl2 . XH2O
- Dipanaskan selama beberapa menit
- Didinginkan dalam eksikator
- Ditimbang
Berat Cawan porselin kosong
(21 gr)
- Ditimbang sebanyak 1.5 gr
- Dimasukkan dalam cawan porselin yang telah ditimbang
- Dipanaskan dalam oven
- Didingiinkan dalam eksikator
- Ditimbang kembali
- Ditentukan berat sampel setelah pemanasan
- Ditentukan jumlah kristal H2O dalam senyawa
Jumlah Kristal H2O
(2.3 mol)
1. HASIL PENGAMATAN
1. Data Pengamatan
- Berat cawan kosong = 21.0 gr
- Berat cawan + sampel = 22.5 gr
- Berat sampel BaCl2 XH2O = 1.5 gr
- Berat sampel + cawan setelah pemijaran = 22.25 gr
- Berat sampel setelah pemijaran = 1.25 gr
- BM BaCl2 = 208 gr/mol
1. Perhitungan
- Mol BaCl2 XH2O
- Mol BaCl2
- Mol BaCl2 Mol BaCl2 XH2O
1. Reaksi
1. PEMBAHASAN
Analisis gravimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif yang dilakukan dengan menimbang endapan sampel yang telah dianalisis, sehingga didapat rumus molekul zat dengan benar. Langkah-langkah yang umum dilakukan dalam analisis gravimetri adalah melarutkan cuplikan zat dengan larutan pelarut yang sesuai dan ditambahkan zat pengendap. Endapan yang terbentuk disaring, dicuci, dikeringkan, dipijarkan lalu ditimbang setelah dingin.
Pengamatan ini bertujuan untuk menentukan jumlah mol air kristal yang terikat dalam suatu senyawa. Dalam percobaan ini digunakan senyawa BaCl2.XH2O sebagai sampel yang akan dibuktikan berat X-nya melalui analisis garvimetri. Senyawa ini masih mengandung air, sehingga untuk menentukan X atau kadar air yang sesungguhnya, perlu dilakukan pemijaran atau pengeringan. Pemijaran pada suhu tinggi diperlukan untuk menghilangkan air secara sempurna. Senyawa BaCl2 dan kristal air berikatan secara kovalen sehingga diperlukan energi yang besar untuk memisahkan ikatannya. Oleh karena itu, diperlukan suhu yang tinggi untuk membebaskan molekul air agar dapat menguap dan bereaksi dengan oksigen membentuk karbon dioksida (karbon dihasilkan dari pembakaran), sehingga pada akhirnya kandungan air akan habis menguap dan yang tersisa adalah endapan murni BaCl2. Senyawa ini sangat reaktif terhadap air, sehingga harus ditempatkan dalam wadah tertutup agar tidak bereaksi dengan udara.
Percobaan yang dilakukan telah sesuai dengan prosedur. Berdasarkan hasil timbang BaCl2 setelah pemijaran didapatkan hasil 1.25 g. Setelah dibandingkan dengan berat awal sampel maka didapatkan X sebesar 2.3 molekul. Hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan jumlah mol air kristal secara teori, berat teori adalah 2 mol. Diduga kesalahan terjadi karena pada saat pemanasan suhu yang diberikan kurang maksimal sehingga tidak mampu melepas semua molekul H2O atau pada saat pendinginan di eksikator, ada udara yang bereaksi dengan senyawa BaCl2.
1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa jumlah mol air kristal dalam BaCl2 adalah sebesar 2.3 mol atau mendekati 2 mol.
Setelah seorang mahasiswa Teknik Kimia mendapat gelarnya, yaitu S. T, apa sih pekerjaan terfavorit mereka di dunia kerja? Tentunya bagi kalian yang masih mahasiswa Teknik Kimia, kalian akan melakukan rencana jangka panjang akan bekerja dimana, di bidang apa, di perusahaan apa, dan sebagai apa. Bagi kalian yang telah lulus atau baru lulus dari pendidikan Teknik Kimia, kalian juga tentunya pasti lebih memikirkan bidang pekerjaan yang akan kalian tekuni di dunia kerja nanti. Banyak pilihan yang terbuka untuk kita terjuni saat memasuki dunia kerja, namun apa sih yang terfavorit? Apa sih bidang pekerjaan dan perusahaan yang merupakan favorit lulusan Teknik Kimia saat ini? Anda dapat membaca paparkan trend pekerjaan terfavorit sebagai seorang sarjana Teknik Kimia di Indonesia dalam artikel Majari yang lalu, yaitu di: http://majarimagazine.com/2011/06/6-pekerjaan-terfavorit-seorang-sarjana-teknik-kimia/
Kemudian, muncul pertanyaan, jikalau saya tidak memiliki passion bekerja di Oil & Gas, FMCG, EPCC, Petrokimia, Chemical Industry, dan Consultant, lalu bagaimana peluang kerja di tempat lain? Berikut pemaparan dari informasi yang saya ketahui mengenai peluang pekerjaan lainnya bagi sarjana Teknik Kimia di Indonesia untuk memberikan informasi lebih mendetail bagi kesempatan kerja lulusan Teknik Kimia Indonesia.
1. Industri Renewable Energy
Industri renewable energy merupakan industri masa depan menurut saya, karena memiliki segudang potensi untuk menjadi alternatif energi pengganti oil and gas. Kebutuhan energi akan terus berkembang, seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan konsumsi energi di dunia. Oleh karena itu, lahirnya industri ini harus didukung agar dapat mengatasi berbagai krisis energi yang melanda di belahan dunia, salah satunya Indonesia. Industri baru ini perlu didukung oleh segenap generasi muda sebagai pekerja-pekerjanya agar dapat membangun industri renewable energy ini. Industri ini mulai berkembang di Indonesia, misalnya Wilmar dan PT Ganesha Energy 77.
2. Industri Agrobisnis
Industri agrobisnis mempunyai peluang besar di Indonesia karena memang Indonesia memiliki potensi besar dalam dunia bisnis agrobisnis. Perusahaan yang bergerak di bidang ini misalnya adalah Triputra Group dan Wilmar.
3. Staff Ahli Kementerian
Sesuai pengalaman saya, saya sering mendengar beberapa senior saya bekerja menjadi Staff Ahli Kementerian RI, terutama menjadi Staff Ahli Kementerian Lingkungan Hidup dan Staff Ahli Kementrian ESDM. Bagi yang suka bekerja sebagai pegawai pemerintahan, mungkin pekerjaan ini dapat sesuai dengan passion Anda.
4. Industri / Unit Pengolahan Limbah
Industri pengolahan limbah dapat dimasuki oleh lulusan Teknik Kimia Indonesia karena memang lulusan Teknik Kimia punya basic relatif kuat dalam pengolahan limbah (waste treatment). Lulusan Teknik Kimia seringkali dikatakan dapat merebut kesempatan kerja lulusan Teknik Lingkungan. Lulusan Teknik Kimia dapat bekerja di perusahaan PPLI, atau di-support system berbagai perusahaan besar, misalnya di unit pengolahan limbah di Oil and Gas Industry.
5. Banking
Dunia perbankan juga dapat diselami oleh lulusan Teknik Kimia, misalnya bekerja sebagai analis di bank untuk membantu feasibilty study/analysis ketika bank hendak memberikan pinjaman ke suatu badan usaha/organisasi yang hendak meminjam dana. Lulusan Teknik Kimia akan memiliki kelebihan analisis dalam feasibility study untuk proyek pembangunan industri-industri, mulai dari industri kecil sampai industri besar. Hal tersebut karena lulusan Teknik Kimia dibekali dengan pengalaman analisis studi kelayakan perancangan pabrik kimia.
6. Peneliti
Peneliti merupakan salah satu peluang pekerjaan lulusan Teknik Kimia. Bagi yang menyukai bidang penelitian di Laboratorium, kalian dapat bergabung ke lembaga penelitian, misalnya BPPT, LIPI, asisten dosen / proffesor dalam membantu penelitiannya. Bagi kalian yang memiliki passion mengembangkan inovasi ilmu pengetahuan & teknologi dan senang menemukan hal-hal baru, pekerjaan ini sangat sesuai dengan pribadi Anda.
7. Dosen / Professor / Guru Besar Universitas
Tentunya pekerjaan menjadi dosen, proffesor, atau bahkan Guru Besar di berbagai Universitas Teknik Kimia Indonesia menjadi peluang tersendiri bagi Sarjana Teknik Kimia. Namun, memang untuk menjadi dosen, di beberapa universitas besar mengharuskan calon dosen tersebut memiliki pendidikan Teknik Kimia sampai S2 atau bahkan S3. Oleh karena itu, sang Sarjana Teknik Kimia haruslah mengambil studi lanjut ke S2 atau S3 sebelum memutuskan ingin menjadi dosen. Jikalau kalian memiliki passion mengembangkan ilmu pengetahuan & teknologi dan senang mengajar & mendidik calon-calon generasi Indonesia masa mendatang, pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang menarik dan sangat mulia. Indonesia sangat membutuhkan tenaga-tenaga pengajar ahli yang pakar di berbagai bidang Teknik Kimia yang begitu luas demi membangun ekonomi bangsa ini di masa depan. Tentunya pendidikan akan menjadi fondasi yang sangat kuat bagi bangsa ini untuk berkembang dalam iptek-nya.
Demikianlah pembahasan 7 peluang pekerjaan lainnya bagi lulusan Teknik Kimia di Indonesia, untuk melengkapi informasi di artikel Majari sebelumnya (6 Pekerjaan Terfavorit Seorang Sarjana Teknik Kimia di Indonesia).
Semoga pemaparan ini berguna bagi pilihan dunia kerja kalian sebagai sarjana Teknik Kimia di Indonesia. Silahkan berikan saran & kritik bagi pemaparan ini, serta sharingnya dari kalian sang pembaca.
I. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa mampu:
1. Membuat larutan dengan konsentrasi tertentu dari padatan dan cairan
2. Membuat larutan dengan cara yang tepat dan benar
3. Menggunakan peralatan dengan tepat dan benar
II. DAFTAR ALAT
- Kaca arloji
- spatula
- pengaduk
- gelas kimia 100ml, 250ml
- labu takar 100ml,250ml
- botol aquadest
- corong gelas
- bola karet
- pipet ukur
- pipet tetes
- masker, kacamata, sarung tangan
III. DAFTAR BAHAN
- Bahan/zat petunjuk praktikum anaalisa kation-anion
- Botol zat
- padatan : CuSO4, KBr, CaCl2, MnSO4, CoCl2, Al2(SO4)3, Hg(NO3), CH3COONa,
CH3COOPb, Mg(CH3COO)2
- cairan : NaOH 6 M dan NaOH 2 M
IV. DASAR TEORI
Unsur merupakan zat-zat yang tidak dapat diuraikan menjadi zat lain yang lebih sederhana oleh reaksi kimia biasa. Unsur berfungsi sebagai zat pembangun untuk semua zat-zat kompleks yang akan dijumpai. Senyawa merupakan zat yang terdiri dari dua atau lebih unsur dan untuk masing-masing senyawa individu selalu ada dalam proporsi massa yang sama. Unsur dan senyawa yang dianggap sebagai zat murni karena komposisinya selalu tetap. Sebaliknya, campuran komposisinya dapat berubah-ubah
Reaksi kimia biasanya berlangsung antara dua campuran zat, bukannya antara zat murni. Satu tipe campuran yang paling sering dijumpai adalah larutan. Lautan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap sejumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat terlarut, sedangkan solven adalah medium dalam mana solven terlarut.
Di alam, umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air, selain air yang berfungsi sebagai pelarut adalah alkohol, amoniak, kloroform, benzena, minyak, asam asetat. Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah zat pelarut dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam sejumlah volume tertentu dari pelarut.
Umumnya larutan terdiri dari zat terlarut (silut) dan zat pelarut (solven). Kuantitas relatif suatu zat tertentu dalam suatu larutan disebut konsentrasi.
Satuan konsentrasi dari larutan dapat berupa:
% w/w = persen berat/berat = gram zat terlarut
100 gram larutan
%w/v = persen berat/voume = gram zat terlarut
100 ml larutan
%v/v = persen volume/voloume = ml zat terlarut
100 ml larutan
M = molaritas = mol zat terlarut
Liter larutan
N = normalitas = ekivalen zat terlarut
Liter larutan
M = molalitas = mol zat terlarut
Kg pelarut
Pembuatan larutan dengan berbagai konsentrasi dan pengenceran, Larutan adalah campuran serba sama antara komponen zat terlarut dan komponen pelarut. Hubungan kuantitatif antara zat terlarut dengan pelarut dalam suatu larutan disebut konsentrasi atau kepekaan. Kita kenal beberapa satuan konsentrasi yang umum antara lain :
a. Persen
Persen adalah hubungan yang menyatakan banyaknya bagian zat terlarut dalam setiap seratus bagian larutan. Satuan persen terdiri atas beberapa macam yaitu : Persen berat per volume (V/V)
b. Molar
Molar atau molaritas adalah sistem konsentrasi yang menyatakan banyaknya mol zat yang terkandung dalam satu liter larutan.
M = Mol/liter M = mmol/ml M = gr/Mr x 1000/ml
c. Normal (N)
Normal atau normalitas adalah banyaknya eqivalen zat terlarut yang terkandung dalam setiap liter larutan.
N = grek/liter BE = BM/ev grek = gr/BE x 1/ltr
N = gr x ev/BM x vol
d. Molal (m)
Molal atau molalitas adalah perbandingan antara jumlah zat terlarut dalam setiap kilogram pelarutnya.
m = mol zat terlarut/kg pelarut m = gr/BM x 1000/p
e. Fraksi mol (X)
Fraksi mol merupakan perbandingan mol zat terlarut terhadap jumlah mol larutan.
X = mol zat terlarut/mol larutan X = n1/n1 + n2
f. Part per million (ppm)
Parts per million (ppm) merupakan satuan konsentrasi yang sangat encer atau disebut juga bagian persejuta.
ppm = mol zat terlarut/106 mg air atau ppm = mol zat terlarut/liter larutan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat antara lain adalah tekanan dan suhu. Kelarutan zat padat dan cairan tidak terpengaruh oleh tekanan, sedangkan kelarutan gas-gas akan bertambah, apabila tekanan diperbesar.
Zat-zat kimia yang dipakai untuk membuat larutan harus
memenuhi syarat, antara lain :
• Zat yang digunakan harus murni dan mempunyai rumus molekul yang pasti.
• Zat yang digunakan harus mempunyai berat ekuivalen yang pasti.
• Zat yang digunakan mudah di keringkan.
• Stabil dimana larutan baku primer dapat dipakai untuk menentukan
kadar larutan yang tidak diketahui.
Larutan dapat dibuat dari zat asalnya yaitu :
a. Padatan
Jumlah zat terlarut (solut) yang dibutuhksn = M x V x BM
M= molaritas larutan, mol/liter
V= volume larutan, liter
BM= berat molekul zat, gr/mol
b. Cairan
Jika larutan yang dibuat dari zat asalnya cairan,umumnya senyawa asam, basa,organic,maka volume zat yang dibutuhkan ditentukan dari persamaan:
V1 . M1 = V2 . M2 atau V1 . N1 = V2 . N2
Di mana :
V1 = volume awal
M1 = molaritas awal
N1 = normalitas awal
V2 = volume akhir
M2 = molaritas akhir
N2 = normalitas akhir
Molaritas awal didapat dari:
Untuk % v/v :
M = %x ρ x 1000
BM
Untuk %w/v :
M = % x 1000
BM
V. KESELAMATAN KERJA
• Untuk mengambil larutan zat pekat (misalnya asamdan basa kuat) gunakan sarung
tangan, masker, dan kacamata
• Sebelum larutan pekat dimasukkan ke dalam labu ukur, terlebik dahulu isi labu ukur
dengan ait aquadest
• Lakukan pengencerandi lemari asam
VI. LANGKAH KERJA
a. Untuk zat asal padatan (pelarutan)
1. Menghitung jumlah zat yang diperlukan
2. Menimbang zat tersebut dengan menggunakan kaca arloji
3. Memasukkan zat ke dalam gelas kimia, menyemprot dan membilas zat yang
tertinggal dengan air demineral
4. Mengaduk hingga semua zat terlarut ke dalam air
5. Memindahkan larutan ke dalam labu ukur yang sudah dipasang corong
6. Membilas zat yang tertinggal dengan air demineral
7. Menambahkan air dengan hati-hati sampai tanda batas
8. Menutup labu ukur dan mengocok sambil membolak-balik sampai homogen
9. Memindahkan ke dalam botol zat, memberi label identitas zat(nama zat/rumus kimia, konsentrasi, tanggal)
b. Untuk zat asal cairan (pengenceran)
1. Menghitung molaritas zat asal berdasarkan keterangan pada botol zat
2. Menghitung volume zat yang dibutuhkan berdasarkan rumus pengenceran
3. Mengisi air demineral 1/3 bagian ke dalam labu ukur yang akan digunakan
sesuai dengan volumenya.
4. Mengambil zat tersebut dengan menggunakan pipet ukur
5. Memasukkan ke dalam labu ukur melalui dindingnya
6. Menutup dan mengocok sambil membolak-balik sampai homogen
7. Memasukkan ke dalam botol zat, memberi label
download from : mahardika-duniaku.blogspot.com
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa mampu:
1. Membuat larutan dengan konsentrasi tertentu dari padatan dan cairan
2. Membuat larutan dengan cara yang tepat dan benar
3. Menggunakan peralatan dengan tepat dan benar
II. DAFTAR ALAT
- Kaca arloji
- spatula
- pengaduk
- gelas kimia 100ml, 250ml
- labu takar 100ml,250ml
- botol aquadest
- corong gelas
- bola karet
- pipet ukur
- pipet tetes
- masker, kacamata, sarung tangan
III. DAFTAR BAHAN
- Bahan/zat petunjuk praktikum anaalisa kation-anion
- Botol zat
- padatan : CuSO4, KBr, CaCl2, MnSO4, CoCl2, Al2(SO4)3, Hg(NO3), CH3COONa,
CH3COOPb, Mg(CH3COO)2
- cairan : NaOH 6 M dan NaOH 2 M
IV. DASAR TEORI
Unsur merupakan zat-zat yang tidak dapat diuraikan menjadi zat lain yang lebih sederhana oleh reaksi kimia biasa. Unsur berfungsi sebagai zat pembangun untuk semua zat-zat kompleks yang akan dijumpai. Senyawa merupakan zat yang terdiri dari dua atau lebih unsur dan untuk masing-masing senyawa individu selalu ada dalam proporsi massa yang sama. Unsur dan senyawa yang dianggap sebagai zat murni karena komposisinya selalu tetap. Sebaliknya, campuran komposisinya dapat berubah-ubah
Reaksi kimia biasanya berlangsung antara dua campuran zat, bukannya antara zat murni. Satu tipe campuran yang paling sering dijumpai adalah larutan. Lautan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap sejumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat terlarut, sedangkan solven adalah medium dalam mana solven terlarut.
Di alam, umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air, selain air yang berfungsi sebagai pelarut adalah alkohol, amoniak, kloroform, benzena, minyak, asam asetat. Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah zat pelarut dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam sejumlah volume tertentu dari pelarut.
Umumnya larutan terdiri dari zat terlarut (silut) dan zat pelarut (solven). Kuantitas relatif suatu zat tertentu dalam suatu larutan disebut konsentrasi.
Satuan konsentrasi dari larutan dapat berupa:
% w/w = persen berat/berat = gram zat terlarut
100 gram larutan
%w/v = persen berat/voume = gram zat terlarut
100 ml larutan
%v/v = persen volume/voloume = ml zat terlarut
100 ml larutan
M = molaritas = mol zat terlarut
Liter larutan
N = normalitas = ekivalen zat terlarut
Liter larutan
M = molalitas = mol zat terlarut
Kg pelarut
Pembuatan larutan dengan berbagai konsentrasi dan pengenceran, Larutan adalah campuran serba sama antara komponen zat terlarut dan komponen pelarut. Hubungan kuantitatif antara zat terlarut dengan pelarut dalam suatu larutan disebut konsentrasi atau kepekaan. Kita kenal beberapa satuan konsentrasi yang umum antara lain :
a. Persen
Persen adalah hubungan yang menyatakan banyaknya bagian zat terlarut dalam setiap seratus bagian larutan. Satuan persen terdiri atas beberapa macam yaitu : Persen berat per volume (V/V)
b. Molar
Molar atau molaritas adalah sistem konsentrasi yang menyatakan banyaknya mol zat yang terkandung dalam satu liter larutan.
M = Mol/liter M = mmol/ml M = gr/Mr x 1000/ml
c. Normal (N)
Normal atau normalitas adalah banyaknya eqivalen zat terlarut yang terkandung dalam setiap liter larutan.
N = grek/liter BE = BM/ev grek = gr/BE x 1/ltr
N = gr x ev/BM x vol
d. Molal (m)
Molal atau molalitas adalah perbandingan antara jumlah zat terlarut dalam setiap kilogram pelarutnya.
m = mol zat terlarut/kg pelarut m = gr/BM x 1000/p
e. Fraksi mol (X)
Fraksi mol merupakan perbandingan mol zat terlarut terhadap jumlah mol larutan.
X = mol zat terlarut/mol larutan X = n1/n1 + n2
f. Part per million (ppm)
Parts per million (ppm) merupakan satuan konsentrasi yang sangat encer atau disebut juga bagian persejuta.
ppm = mol zat terlarut/106 mg air atau ppm = mol zat terlarut/liter larutan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat antara lain adalah tekanan dan suhu. Kelarutan zat padat dan cairan tidak terpengaruh oleh tekanan, sedangkan kelarutan gas-gas akan bertambah, apabila tekanan diperbesar.
Zat-zat kimia yang dipakai untuk membuat larutan harus
memenuhi syarat, antara lain :
• Zat yang digunakan harus murni dan mempunyai rumus molekul yang pasti.
• Zat yang digunakan harus mempunyai berat ekuivalen yang pasti.
• Zat yang digunakan mudah di keringkan.
• Stabil dimana larutan baku primer dapat dipakai untuk menentukan
kadar larutan yang tidak diketahui.
Larutan dapat dibuat dari zat asalnya yaitu :
a. Padatan
Jumlah zat terlarut (solut) yang dibutuhksn = M x V x BM
M= molaritas larutan, mol/liter
V= volume larutan, liter
BM= berat molekul zat, gr/mol
b. Cairan
Jika larutan yang dibuat dari zat asalnya cairan,umumnya senyawa asam, basa,organic,maka volume zat yang dibutuhkan ditentukan dari persamaan:
V1 . M1 = V2 . M2 atau V1 . N1 = V2 . N2
Di mana :
V1 = volume awal
M1 = molaritas awal
N1 = normalitas awal
V2 = volume akhir
M2 = molaritas akhir
N2 = normalitas akhir
Molaritas awal didapat dari:
Untuk % v/v :
M = %x ρ x 1000
BM
Untuk %w/v :
M = % x 1000
BM
V. KESELAMATAN KERJA
• Untuk mengambil larutan zat pekat (misalnya asamdan basa kuat) gunakan sarung
tangan, masker, dan kacamata
• Sebelum larutan pekat dimasukkan ke dalam labu ukur, terlebik dahulu isi labu ukur
dengan ait aquadest
• Lakukan pengencerandi lemari asam
VI. LANGKAH KERJA
a. Untuk zat asal padatan (pelarutan)
1. Menghitung jumlah zat yang diperlukan
2. Menimbang zat tersebut dengan menggunakan kaca arloji
3. Memasukkan zat ke dalam gelas kimia, menyemprot dan membilas zat yang
tertinggal dengan air demineral
4. Mengaduk hingga semua zat terlarut ke dalam air
5. Memindahkan larutan ke dalam labu ukur yang sudah dipasang corong
6. Membilas zat yang tertinggal dengan air demineral
7. Menambahkan air dengan hati-hati sampai tanda batas
8. Menutup labu ukur dan mengocok sambil membolak-balik sampai homogen
9. Memindahkan ke dalam botol zat, memberi label identitas zat(nama zat/rumus kimia, konsentrasi, tanggal)
b. Untuk zat asal cairan (pengenceran)
1. Menghitung molaritas zat asal berdasarkan keterangan pada botol zat
2. Menghitung volume zat yang dibutuhkan berdasarkan rumus pengenceran
3. Mengisi air demineral 1/3 bagian ke dalam labu ukur yang akan digunakan
sesuai dengan volumenya.
4. Mengambil zat tersebut dengan menggunakan pipet ukur
5. Memasukkan ke dalam labu ukur melalui dindingnya
6. Menutup dan mengocok sambil membolak-balik sampai homogen
7. Memasukkan ke dalam botol zat, memberi label
download from : mahardika-duniaku.blogspot.com
Navigation









